bindranatoparhusip

sejenak kita berbicara tentang segala sesuatu hal yang ingin kita ketahui

SITUS-SITUS BUDAYA BATAK YANG ADA DI KABUPATEN SAMOSIR

Tinggalkan komentar


Hallo…………………………………………

Lama tak mempostkan apa yang perlu kita bicarakan tentang Samosir. Mungkin sebagian dari isi yang say postkan ini belum memiliki keakuratan menurut yang sebenarnya. Tapi alangkah lebih baik jika saya membagikan apa yang sudah kami rangkum dalam kegiatan Pelatihan Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal SD dan SMP Kabupaten Samosir pada tanggal 26 s.d. 30 Nopember di Pangururan. Kemudian Situ-situs tersebut dijadikan bahan pelajaran di SD dan SMP, dengan tujuan agar generasi penerus Kabupaten Samosir tahu apa, dimana dan siapa tentang legenda-legenda tersebut. Situs-situs tersebut segai berikut :

AEK SIPITUDAI   

Pada jaman duhulukala adalah beberapa keluarga yakni, keturunan Pomparan Guru Tatea Bulan  yang tinggal di lereng gunung pusuk buhit, yang berada dinegeri  limbong.  Setelah tahun berganti tahun,bulan berganti bulan , para pemuda  pemudi  tumbuh bagaikan jamur  di musim hujan. Sehingga Para orangtua  mulai merasa kesal terhadap anaknya yang mulai bertambah dewasa hingga sampai berumur  ( MATUA  DOLI –DOLI DOHOT MATUA ANAK BORU).Sehingga suatu Keluarga timbullah dari benak hatinya untuk menjodohkan anaknya yang sudah gadis terhadap Paribannya. Tetapi sang si Gadis tidak mengidahkan permintaan dari kedua orangtuanya, karena sang sipemuda yang akan ditunangkan orangtuanya  kurang sesuai.

Sehingga, dia menolak permintaan orangtuanya. Tetapi sang orangtua tetap memaksakan anaknya untuk tetap dijodohkan kepada paribannya. Walaupun dipaksa orangtuanya , dia tetap menolak  tidak mau dijodokan dengan Paribannya.  Akibat paksaan keduaorangtuanya, dia  merasa  kesal yang akhirnya  dia pergi keluar Rumah dan pergi ke Kebun dekat  rumahnya  untuk menyembunyikan diri  sambil menangis terseduh-seduh  memikirkan nasibnya.  Berselang beberapa saat,  dia menjadi heran  melihat disekitar tempat dia menangis, telah terjadi mata air yang  sangat jernih. Dan yang paling mengheranannya lagi mata air tersebut  terdiri dari 7 (tujuh) mata air . Setelah beberapa lama, berita mata air tersebut tesebar dilingkungan masyarakat yang berpenghuni ditempat tersebut.   Merekapun berbondong-bondong untuk menyaksikan berita tersebut.. Setelah berita tersebut tersebar ke seluruh penjuru , para pengetua adat membuat suatu musyawarah untuk membentuk suatu kolam penampungan  dari ketujuh mata air tersebut. Setelah kolam penampungan  selesai, para pengetua membentuk tujuh Pansur tempat mengalirkan air untuk diambil masyarakat sekitar untuk  air minum. Setelah Pansur tersebut selesai dibuat oleh para Masyarakat setempat, mereka heran , karena rasa air tersebut  berlainan setiap pancur yang mencapi menjadi 7 rasa. . Mulai saat kejadian tersebut Para pengetua setempat menyebutkannya menjadi AEK SIPITUDAI. Demikianlah cerita singkat terjadinya aek sipitudai , yang mana sampai sekarang mata air tersebut  banyak dikunjungi para masyarakat termasuk Para wisatawan , untuk menikmati kebenaran rasa daripada air tersebut. Dan bukan hanya untuk diminum ,tapi juga berkhasiat  untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit . 

 

BATU GURU

Pada mulanya batu itu ada 4 buah yang diadu oleh Oppu Datu Parulas Parultop, seorang dukun sakti yang mempunyai ultop. Namun yang menang ada 3 buah dan yang kalah ada 1 buah. 3 batu yang menang itulah yang terdapat di sungai Lumbanbatu desa Pangaloan Kecamatan Nainggolan. Dan 1 batu yang kalah berada di Danau Toba, disekitar desa Pangaloan Kecamatan Nainggolan.

Gambar Batu Guru yang berada di Desa Pangaloan Kec. Nainggolan

Alkisah dahulu kala batu Guru yang berada di danau Toba itu selalu goyang dan hanya Oppu Datu Parulas Parultoplah yang dapat menghentikannya. Maka sejak saat itu, batu Guru itu dipercaya memiliki kesaktian. Apabila ada orang yang miskin dan anak yatim piatu memancing ikan disekitar batu Guru akan mendapatkan ikan-ikan yang besar. Kemudian apabila ada orang yang sedang merokok, tiba-tiba mancisnya jatuh ke danau dengan tidak disadarinya, mancis itu kembali lagi berada ditangannya. Dan kesaktian lainnya, setiap orang yang ziarah harus bertingkah laku sopan dan apabila dilanggar akan mendapat bala bahkan kematian. Kesaktian batu Guru ini dapat disaksikan marga Lumbanraja dan penduduk disekitar batu Guru itu. 

Keunikan dari batu Guru yang berada di danau Toba adalah batu yang begitu besar yang hanya ada sedikit tanah yang menopang dibawahnya dengan 3 tiang  yang melambangkan Dalihan Natolu untuk memperteguh kesatuan budaya orang Batak seperti Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, dan Elek Marboru.     

 

BATU HOBON

Anak ni siraja batak adong 2 ima :

  1. Guru tatea bulan
  2. Raja isombaon

Guru tatea bulan mempunyai anak 5 orang yang masing-masing mempunyai kembar perempuan yaitu:

1.Siraja uti/ Raja biak biak

2.Saribu Raja

3.limbong Malau

4.Sagala Raja

5.Malau Raja

Dohot 4 boruna ima

1.Siboru paromas

2.Siboru pareme

3.Siboru biding laut

4.Natinjo

Batu Hobon Nama batu tersabut  diperoleh dari bentuk dengan rongga yang ada dibawah nya ,di yakini batu ni sebuah lorong. Karena dianggap keramat sehingga ditempat ini kerap diadakan upacara sacral   yang masih berlanjut sehingga sekarang.upcara itu dinyakini sebagai pemohonan kepada roh leluhur sekaligus menerima pewahyuan dari nenek moyang,dikenal dengan sebutan ‘Tatea Bulan’. Batu hobon memiliki kisah mistis yang menarik untuk d cermati  ,musibah bahkan berakhir dangan kematian .

Dikisahkan pada jaman penjajahan belanda, ada seorang pejabat Pemerintah belanda dari pangururan ,berusaha untuk membuka batu hobon ,dia berangkat dan membawa dinamit dan peralatan lain serta berapa orang personal. Pada saat mereka mempersiapkan alat alat untuk meledakkan Batu Hobon itu dengan tiba tiba dating lah hujan panas yang sangat lebat ,disertai angina yang sangat kencang,serta petir dan Guntur yang sambung menyambung, dan tiba tiba  mereka melihat di tempat itu ada ular yang sangat besar dan pada saat itu juga ada berkas cahaya dari langit tepat diatas Batu Hobon itu, maka orang belanda itu tiba tiba pingsan ,sehingga ia harus d tandu ke pangururan, setelah sampai di pangururan ia pun meninngal dunia.

Suatu ketika tutup batu hobon itu terbuka akibat seseorang yang berusaha mencuri harta karun yang di duga berada dibawah nya .terbukanya tutup batu HOBON membuat cemas orang tapanuli utara yang mengetahuinya .sehingga datanglah murid murid perguruan HKI dari tarutung yang di pimpin oleh Bapak Mangantar Lumbantobing,untuk memasang kembali tutup batu hobon yang sempat terbuka itu.pada mulanya tutup batu itu ,walau pun ratusan orang sekaligus mengangkat nya,tetapi barulah sesudah diadakan upacara memohon restu pengghuni alam yang adadi tempat ituyang dipimpin oleh salah seorang pengetua adat dari limbong, maka dengan  mudah , tutup batu itu dapat di angkat dan di pasang kembali ketempat semula.

 

Batu Kursi Parsidangan

Raja Hendri Siallagan adalah sosok tegas dan berani dan memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dia disegani orang disekitarnya dan desa lain yang ada disekitarnya.Setelah beliau diangkat sebagai raja, beliau membuat berbagai aturan menurut adat-istiadat yang harus dilakukan masyarakat yang dipimpinnya bahkan termasuk hukuman terhadap orang yang melanggar aturan.

          Beliau menghunjuk ( memanggil ) ahli pahat batu untuk memahat beberapa kursi dan sebuah meja yang ter buat dari batu,  sebagai tempat mengadili orang –orang yang melanggar aturan atau orang yang tidak tunduk pada raja. Raja kemudian menempatkan kursi-kursi dan meja tersebut dihalaman rumah tahta raja. Dia menunjukkan kepada rakyatnya bahwa dia tidak main-main dengan aturan yang dia tentukan ( lihat gambar ).

Dari gambar kita dapat menjelaskan bahwa eksekusi hukuman dikeluarkan dihadapan seluruh rakyat sehingga dilakukan diruangan terbuka ( di halaman rumah ). Raja Hendri menjalankan hukuman tidak sendiri, tetapi dibantu oleh stafnya yang mempunyai keahlian masing-masing.

Seperti : Bagian Saksi, Bagian eksekusi( Algojo), dan Datu ( Dukun ).

          Saksi adalah orang yang menjelaskan kepada raja segala pelanggaran yang dilakukan oleh terhukum. Bagian eksekusi adalah orang yang bertugas memenggal kepala terhukum dan mencincang tubuhnya untuk dijadikan makan kalangan raja. Datu ( dukun ) bertugas apabila orang yang akan dieksekusi memiliki ilmu,sehingga datu ( dukun ) dipanggil untuk mengeluarkan ilmu kekebalan orang yang dihukum.Proses pengadilan berlangsung dengan beberapa tahap, termasuk memasung terhukum sebelum pengadilan.

Tahap I : Yaitu penjelasan para saksi yang mengetahui pelanggaran yang dilakukan

Tahap II : Mengeksekusi degan memenggal kepala yang dihukum diatas meja batu yang sudah disediakan ditengah-tangah kursi persidangan.

Tahap III : pada tahap ini biasanya mengeluarkan ilmu kekebalan yang dimiliki oleh tahanan.Terbukti setelah tahap kedua tidak berhasil, misalnya alat algojo tidak dapat melukai leher terhukum maka raja memanggil dukun untuk mengeluarkan pertahanan tubuh yang dihukum dengan bantuan buku laklak dan tongkat raja. Setelah ilmunya keluar maka algojo mengambil darah untuk diminum raja sebagai penambahilmu bagi raja.Kemudian badan nya dicincang untuk dimakan kalangan raja setelah dilumuri asam jeruk.

           Semua pelaksanaan hukuman ini dilakukan dihadapan seluruh rakyat yang dipimpinnya. Demikianlah yang dilakukan raja Hendri untuk memimpin rakyat di Desa Siallagan pada zaman dahulu. Sehingga kita dapat melihat Batu kursi tersebut hingga saat ini apabila kita berkunjung ke Ambarita di kabupaten samosir.

 

BATU MAROPPA

Ditoruni dolok  Ulu Darat adong do tao namargoar  TAO SIHAPORAS . ia taoi tung mansai uli idaon. Alana taoi tung mansai tenang berengon di ginjang, alai aek naditoru nai marpitor – pitor songon gasing

Najolo  boido jolma mamereng nasibna siani, molo denggan nasibna berengonna do disi anggir alai molo  so denggan nasibna berengonna do disi hirta namarputar-putar.

Ditoruni tao sihaporas adong do huta namargoar   “ANGGANAN SIBUNTUON. Molo lao marsoban  parhutai tungg godang do dapotna soban  siani, godang do lao jolma tu doloki songon namabuat soban boi nasida mamereng hinauli ni tao sihaporas

Di sada tingki lao ma akka naposo marsoban tu doloki, molo dung loja namambuat sobani maradi ma nasida paulak hosa loja huhut mamereng hinauli ni tao sihaporas.

Najolo adong ma sada na marumah tangga suami istri di huta TAMBA, di namarumah tangga i nasida di basa- basai ma pinopparna silinduak/ kembar, sada baoa dohot  boru-boru jadi dung magodang anakkon naon sai pungu do karejo nasida namaribotoi, jadi dung songoni marpikkirima natorasni dakdanak on, dung dibereng marsai kompak lao tu balian dohot manang tudia pe nasida lao. Gabe dipisahon ma anakkon na baoa i ditaruhon ma tu huta ni tulang na asa unang boi nasida pajumppang manang marsipaidaan .

Dung magodang anakkon nai tong do di lului ibotonai, jadi angka jolma pe disukkuni ma mang na tudia ibotonai. Di sada tingki  pajummpang ma nasida sai tong do tubu holong di nasida, mamereng i natorasna curiga ma  muruk ma natorasnai ala di bereng  lakon ni nasida. Lao ma nasida tu tombak martabuni tu parsitongaan ni robean ANGGANAN SIBUNTUON. Rap do nasida lao dohot parsoban i ala ro udan maradi ma nasida

Di namaradi i nasida adongma dua halak mamulik- mulik sian napungui dang diboto akka donganna manang tudia nasida lao.

Dung di botarinai mulak ma parsobani tu huta alai dang dohot be nadua halaki, sahat di huta di pabotohon nasida mai tu  akka natua-tua,  laoma akka natua –tua mangalului tu dolok i.

Ala nung ngalian nadua halak na tinggal di robean i  gabe di ulahon nasida ma hubungan suami istri.

Dung sahat natua tua namangalului na dua halaki di bereng ma nungga gabe batu be nasida nadua di pinggir dalan ni batu namarsioppaan. Ima nadigoari BATU MAROPPA.

Batu maroppa napaingothon asa manat-manat angka namariboto unang gabe batu maroppa.

Batu maroppa gabe lambang sipaingot tu angka namariboto asa unang marsiolian.

 

Ini Dia Prosesi Ritual Batak Di Batu Cawan

Pusuk Buhit

Batu Cawan (batu sawan) yang terdapat disisi kaki pegunungan Pusuk Buhit di kecamatan Sianjur Mulamula adalah salah satu objek budaya Batak yang dianggap suci. Dianggap suci karena menurut sejarah, tempat inilah orang Batak percaya bahwa Raja Uti tinggal. Dimana diyakini bahwa dulunya raja-raja yang tinggal di daerah Pusuk Buhit menjadikan tempat pemandian yang suci.

 

Sekitar tahun 1996 tempat ini ditemukan oleh seorang bermarga Limbong lewat mimpi. Setelah ditelusuri ada suatu aliran air yang muncul dari permukaan tanah yang mengalir dari celah pebatuan melintasi tebing menjadikan air terjun kecil ke sebuah batu berbentuk seperti cawan besar. Yang pada ahkirnya kemudian tempat ini dipercaya tempat suci dan dikeramatkan digunakan tempat upacara ritual.

Ada keunikan dari tempat ini, dimana terbukti air yang mengalir sampai batu cawan (batu sawan) memiliki rasa. Tidak seperti air biasa, air di batu cawan (batu sawan) rasanya seperti air yang diberi perasan jeruk purut dan kecut-kecut serta segar alami. Batu Cawan (batu sawan) dipercaya airnya dapat menyembuhkan penyakit.

Orang Batak yang tinggal di daerah itu menyebutnya sebagai air berkah. Tempat ini menjadi salah satu tujuan orang Batak melaksanakan ritual. Yang jelas tempat ini mulai ramai dikunjungi sebagai tempat mengadakan acara ritual, baik yang berasal dari masyarakat sekitar, lokal bahkan dari luar negeri untuk berziarah.

 

BINANGA SITAPIGAGAN

Binanga (Sungai) sitapigagan terletak di Bonan Dolok Kecamatan Sianjur Mulamula kira-kira 25 km dari Pangururan. Binanga sitapigagan bermuara ke Danau Toba di bonan Dolok. Binanga sitapigagan memiliki hulu di hutan Bonan Dolok dan Hasinggaan. Binanga Sitapigagan merupakan salah satu sungai dari sumber yang sama, dimana kedua sungai lain yaitu Binanga Ronuan mengalir  ke daerah Dairi, sementara sungai lain yaitu Binanga Silalahi mengalir ke daerah Silalahi. Binanga sitapigagan ini merupakan sungai yang terbesar diantara ketiga sungai tersebut.

Air binanga ini sehari-hari berwarna agak merah tua. Akan tetapi apabila air sungai itu diambil dan dimasukkan ke dalam suatu wadah, misalnya ember, warna sungai itu tetap bening. Karena warna air sungai ini berwarna agak merah tua, ada kalanya orang yang berkunjung ke tempat itu menganggap bahwa sungai itu kotor. Menurut penduduk setempat, konon apabila ada orang yang sembrono dan mengucapkan kata-kata yang kurang sopan atau mengotori  sungai tersebut maka orang tersebut akan mendapat bala. Selain itu menurut masyarakat setempat terdapat fenomena air binanga sitapigagan akan berubah warna menjadi merah darah apabila akan terjadi suatu bencana atau malapetaka.

Dahulu ketika para penduduk setempat masih menganut kepercayaan kepada roh-roh, dipercayai bahwa binanga tersebut ada penunggunya yang membentuk suatu kerajaan. Ketika masih menganut kepercayaan tentang roh setiap tahun penduduk setempat meminta berkah supaya diberikan hasil pertanian yang melimpah dan menjauhkan malapetaka dari desa tersebut.  Binanga ini juga masih dianggap sakral sampai dengan sekarang. Masih ada pengunjung yang datang terutama para perantau ke binanga tersebut membawa sesajen untuk meminta berkat. Dengan dianggapnya binanga ini sebagai tempat yang sakral, objek wisata ini potensial bagi wisatawan terutama dengan wisatawan yang tertarik dengan hal-hal supranatural.

Melalui cerita ini dapat diambil makna bahwa kita harus menghargai ciptaan Tuhan dan mensyukurinya. Kita tidak boleh melecehkan atau menggunakan kata-kata yang tidak sopan dalam mendeskripsikan kondisi alam di sekitar kita. Melalui praktek yang berbau supranatural yang masih dilakukan di objek wisata ini kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menafsirkan atau menghargai suatu fenomena alam yang dilihatnya. Masing-masing individu bersikap dan berperilaku sesuai dengan dasar keimanannya dengan berpegang pada prinsip saling menghargai antar umat beragama dan kepercayaan.

 

SITAPIGAGAN RIVER

Binanga (River) Sitapigagan is located in Bonan Dolok District Sianjur Mulamula approximately 25 miles from Pangururan. Binanga sitapigagan empties into Lake Toba in Bonan Dolok. Binanga sitapigagan has headwaters in the jungle of Hasinggaan and Dolok Bonan. Binanga Sitapigagan is one from the same river, where the others two rivers, one that flows to Dairi is called Binanga Ronuan, while another river that flows into Silalahi is called Binanga Silalahi Silalahi. Binanga sitapigagan is the largest river among rivers.

Binanga water is usually little colored red. But when the river water was taken and put into a container, such as a bucket, the color remains clear. Because the color of the river water is slightly colored dark red, there are times when people who visit the place believe that the river is dirty. According to locals, if there was a slob and speak words that are less offensive or contaminate rivers then that person will get some kind of curse. Also according to local there is phenomena Binanga water sitapigagan will change color to red blood if there will be a disaster or calamity.

In previous  time, when the locals still adhere to the belief in spirits, it was believed that Binanga has inhabitants that made up a kingdom of supranatural entity. In that time every year the locals asked for blessings to be given the abundant harvest and havoc disaster away from the village. Binanga is also still considered sacred to the present. There are still visitors who come to bring offerings to ask for blessings. With this Binanga regarded as a sacred place, a potential attraction for tourists, especially with tourists who are interested in the supernatural phenomenom.

Through this story may be taken meaning that we must respect God’s creation and be grateful. We must not harass or use words that are not polite in describing the condition of the natural world around us. Through supernatural practice that is still practiced in this tourist attraction we know that everyone has a different way of interpreting or appreciate the natural phenomena he saw. Each individual act and behave in according to the basis of his faith by adhering to the principle of mutual respect between faiths and beliefs.

 

PARANGGIR-ANGGIRAN NI SI BORU SARODING

Suatu pagi,saat matahari terbit, Boru Saroding pergi ke Tao Toba untuk mencuci Baju sekaligus mandi. Asal orang tua Boru saroding adalah Desa yang sering di sebut huta yang berada diantara Palipi dan Mogang, yang berseberangan dengan Rassang Bosi dan Dolok martahan. Boru Sarodig adalah seorang gadis yang cantik rupawan. Dan bisa dibilang dia adalah boru Pandiangan yang tercantik saat itu. Karma cantiknya banyak laki-laki yang datang tuk mendekatinya, ada dari desa yang jauh dari tempat tinggalnya bahkan dari seberang desa itu jg datang mendekatinya. Namun, tak satupun dari laki-laki yang mendekatinya mampu menarik hatiya; yang kaya ataupun tampan,semuanya pulang dengan penolakan Boru saroding.

Namun demikian, tak satupun laki-laki tersebut yang sakit hati karna penolakan Boru Saroding. Orangtuanya, Guru Solandason heran dengan putrid tunggalnya tersebut. Boru Saroding seorang gadis yang pendiam, pandai bertenun, rajin bekerja dan penurut. Yang jelas Boru Saroding adalah putrid kebanggaan orangtuanya. Dia sangat santun terhadap orangtuanya, suka berteman dan patuh terhadap adat batak yaitu menghargai hula-hulanya. Boru Saroding benar-benar calon istri yang sangat diidamkan banyak pemuda. Karena ketekunan Boru Saroding ini dalam bertenun dibuatlah patung Boru Saroding bertenun.

Ketika Boru Saroding mandi, dia juga mencuci rambutnya yang panjang dan lebat dengan air jeruk purut. Tiba-tiba sebuah perahu mendekati dia. Dalam perahu tersebut berdiri seorang laki-laki yang badannya tegap dan tampan. Dari rupa dan pakaian laki-laki tersebut dia bukanlah seorang nelayan, dalam benak Boru Saroding. Perahu tersebut semakin mendekat dan membuat jantung  Boru Saroding makin bedegub kencang. Boru Saroding makin penasaran dengan laki-laki tersebut dan akhirnya cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan buru-buru pulang karna belum pernah laki-laki yang lajang melihat dia mandi.

Tiba di rumah, orangtua dan kedua saudara Boru Saroding kaget melihat Boru Saroding pulang bersama seorang laki-laki. Mereka semua terpana melihat wajah dan tutur kata laki-laki tersebut,mereka bak kena pelet melihat ketampanan dan kesantunan lelaki tersebut. Singkat cerita, laki-laki tersebut menyampaikan niat baiknya kepada orangtua Boru Saroding tuk melamar Boru Saroding tuk jadi istrinya. Karna orangtua Boru Saroding melihat putrinya sudah sangat menyukai laki-laki tersebut, orangtuanya pun menyetujui dan memberitahu sanak saudara dalam adat batak disebut “Dongan Tubu”. Akhirnya Boru Saroding menikah dengan laki-laki tersebut.Cepat-cepat Boru Saroding pulang ke rumah, namun langkahnya terhenti  saat laki-laki tersebut menyapanya: ‘’Boruni rajanami(panggilan sopan buat gadis batak), kenapa terburu-buru pulangnya?”. Akhirnya Boru Saroding mengalihkan pandangannnya ke laki-laki tersebut. “wahhh…..sungguh tampan dan tegapnya laki-laki ini”. Benaknya. “masih banyak pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan”jawab Boru Saroding mencari alasan menutupi. Akhirnya mereka berkenalan, asal laki-laki tersebut Dolok Rassang Bosi tepatnya “Ulu Darat”. Setelah saling mengenal, laki-laki tersebut mengutarakan niatnya tuk menjadikan Boru Saroding menjadi istrinya dan ingin berkenalan dengan ornagtua gadis tersebut..Boru Saroding sudah sangat tertarik dengan ketampanan laki-laki tersebut, akhirnya mengajak laki-laki itu ke rumahnya. Mereka berjalan bersama, wajah Boru Saroding sangat bahagia dan tidak sabar lagi tiba di rumahnya tuk menceritakan kebahagiannya, mengenalkan laki-laki yang sudah mencuri hatinya.

Setelah Pesta pernikahan selesai, Boru Saroding ikut dengan laki-laki yang sudah jadi suaminya ke Rassang Bosi. Dalam perjalanan Boru Saroding sangat heran,Karna mereka sangat cepat sampai di Rassang Bosi. Dan dia makin heran ketika suaminya memberitahukan tempat tinggal mereka di Ulu Darat. Selama dalam perjalanan hati Boru Saroding sangat bahagia, saat mendaki gunung yang sangat tinggi tersegut, suaminya selalu membantu dia, jalan mereka sangat cepat. Boru Saroding tidak merasa lelah, keringat pun tidak begitu juga dengan suaminya.

Hutan yang mereka lalui sangatlah gelap namun mereka dapat melewatinya. Akhirnya sampai lah mereka di rumah suaminya. Boru Saroding pun istirahat dan sampai tertidurlah mereka berdua sampai esok harinya. Ketika Boru Saroding bangun , dia tidak melihat suaminya. Dia melihat sekelilingnya namun dia tidak menemukan suaminya. Dia terkejut melihat seekor ular yang sangat besar di pohon depan rumahnya. Boru Saroding takut dan buru-buru menutup pintu rumah. Dia belum pernah melihat ular sebesar itu,namun wajah dan kepala ular tersebut tudak seperti ular biasanya. Dia pun terdiam di rumah.

Tidak lama kemudian dia mendengar suara suaminya memanggilnya, dia pun membukakan pintu rumah untuk suaminya dan dia menceritakan apa yang dilihatnya. ” g usah takut, ular yang baik nya ular itu” jawab suaminya.

Suaminya adalah suami yang sangat sayang istri, selalu buat hati istrinya bahagia. Boru Saroding pernah kerja, segala sesuatunya dikerjakan oleh suaminya. Selain itu suaminya juga pintar buat istrinya ketawa dan juga suaminya juga mencari ramuan tuk kecantikan istrinya.

Namun terkadang timbul dalam benak Boru Saroding beribu pertanyaan  dan  bingung dengan kebiasaan suaminya tiap hari. Suatu ketika dia melihat suaminya berubah  jadi ular dan ular itu persis sama dengan ular yang pernah dilihatnya di depan rumah mereka. Namun dia pura-pura tidak tahu, dia takut suaminya marah. Ular tersebut keluar dari rumahnya masuk ke hutan, tinggallah dia dirumah. Dia pun ketakutan dan sangat menyesal atas keputusannya dulu tuk menerima laki-laki tersebut tanpa pikir panjang. Ternyata suaminya bukan manusia.

Sorenya suami Boru Saroding pun pulang dengan bawa beraneka ragam makanan. Selesai mereka masak dan makan, suaminya pun jujur kepada Boru Saroding, bahwa ia disembah Ulu Darat kadang manusia kadang jadi ular, Boru Saroding tersenyum tuk menunjukkan rasa sayangnya buat suaminya, walau dalam hatinya sangat ketakutan dan menyesal. Hati suaminya pun senang melihat respon Boru Saroding.

Suatu ketika kedua saudara laki-laki( ito dalam Batak) Boru Saroding datang mengunjungi mereka ke Ulu Darat. Mereka sangat merindukan adek tercinta mereka. Boru Saroding sangat senang karna kedua saudaranya rela melewati hutan dan mendaki gunung ang sangat tinggi tuk mengunjunginya. Kedua saudaranya itu dihidangi berbagai makanan yang sangat enak. Sore harinya Boru Saroding tahu suaminya akan datang, dia pun takut ketahuan kedua saudaranya datang ke rumah mereka,karena dia tahu suaminya makan manusia ketika jadi ular.

Dari kejauhan kedengaranlah suara ular mendekati rumahnya. Dia pun tergesa-gesa menyembunyikan kedua saudaranya supaya tidak ketahuan suaminya. Suaminya pun masuk ke rumah dan langsung merasakan penciuman yang sangat aneh,” aku mencium bau manusia?”kata suaminya.

Boru Saroding pun gelisah, dan sibuk nyiapin makanan tuk suaminya. Selesai makan , mereka pun tidur. Namun mata dan hidung suaminya masih sibuk mencari bau yang dia rasakan.” tidak ada orang lain di rumah kita,” kata Boru Saroding,”tidurlah kita, udah tengah malam”. Namun suaminya tetap penasaran, dengan rasa takut Boru Saroding berkata jujur” maaf suamiku, izinkanlah kedua saudaraku mengunjungi kita, karna rasa rindunya mereka datang mengunjungi kita ke Ulu Darat ini”.

Suaminya pun menyuruh memanggilkan kedua saudara istrinya. Dan akhirnya merekapun bercerita sampe malam berakhir. Esok harinya kedua saudara Boru Saroding pamit pulang ke samosir.

”Apa yang kamu berikan kepada kami pertanda kami sudah bertandang ke rumahmu” kata kedua Pandiangan itu kepada Suami Boru Saroding. ” baiklah , hanya ini yang biasa aku berikan” kata laki-laki tersebut sambil memberikan bungkusan kain kecil( dalam bahasa batak toba disebut gajut),” namun bukalah ini pada hari ketujuh” kata suami Boru Saroding.

Sampailah kedua Pandiangan itu di Samosir, seorang Pandiangan penasaran dan g sabar menunggu tujuh hari akhirnya membuka pemberian suami adiknya, ternyata di dalam nya ada tanah , ulat dan kunyit. Dia pun marah dan memaki suami adiknya. Penasaran dengan yang di dapat adik bungsunya, dia pun menyuruh si Pandiangan Bingsu membuka, namun si bungsu tidak mau. Si bungsu membuka pada hari ketujuh dan di dapatinya nyak kerbau penuh halaman rumahnya dan banyak emas. Semenjak itu kaya rayalah si bungsu Pandiangan.

Setelah beberapa bulan, si Boru Saroding minta izin kepada suaminya tuk mengunjungi orang tuanya dan berjanji akan kembali ke Ulu Darat. Dengan sangat berat hati akhirnya laki-laki itu membiarkan Boru Saroding mengunjungi orangtuanya Ke Samosir. Dia pun mengantarkan istrinya ke tepi danao Rassang Bosi.

Hanya satu helai daun diambil laki-laki tersebut tuk perahu Boru Saroding tuk ke Samosir.” karena kamu menyayangiku aku yakin kamu pasti pulang makanya aku membiarkan kamu pulang” kata laki-laki itu, namun kita harus punya sumpah janji,” kata Boru Saroding,”katakanlah sumpah itu” si suami pun berkata” Dekke ni Sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise siose padan turipurna tumagona”. Yang artinya siapa yang ingkar janji akan dapat celaka.

Boru Saroding pun berangkat dan mendayung sampan dari daun tersebut. Air sangat tenang, tidak ada ombak, angin pun tenang dan langitpun cerah. Tinggallah laki-laki yang menatap dari tepi Danau Toba, dengan penuh kesedihan melepas kepergian sanga istri tercinta. Tidak berapa jauh Boru Saroding pun menoleh kebelakang,”Puiih…………sungguh menjijikkan, ternyata kamu bukan manusia, disembahlah kamu ular besar………….kamu kira aku akan kembali!!!!!!!tidak akan ……..ternyata kamu hanya seekor ular,” setelah mengucapkan semua itu, anginpun kecang , ombakpun tinggi,ketakutanlah Boru Saroding itu danterus mendayung sampanya. Namun dia tidak bisa melawan amukan angin, ombak akhirnya Boru Sarodingpun tenggelam. Dan Boru Saroding pun sampai saat ini ikut di sembah orang batak dan tempat tenggelamnya boru saroding dinamai”Paranggir-anggiran ni si boru Saroding”.

Sampai sekarang orang batak yang berada di sekitar kejadian mempercayai hal ini dan laki-laki tersebut di juluki ”Amangboru Saroding”alani holongna tu Boru Saroding.

 

BULU TURAK NANTINJO

Pada Zaman dahulu ada satu keluarga yang bertempat tinggal di Pusuk Buhit yaitu Guru Tatea Bulan. Guru Tatea Bulan mempunyai Sembilan orang anak 5 lelaki dan 4 perempuan. Nama laki-laki yang pertama Raja Biak-Biak, yang kedua Saribu Raja, yang Ketiga Limbong Mulana, yang ke empat Sagala Raja dan yang kelima Malau Raja. Anak perempuan yang pertama si Boru Parumas, yang kedua si Boru Pareme, yang ketiga si Boru Biding Laut dan putri yang ke empat Nantinjo. Saudara-saudara Nantinjo semua berserak, saudaranya yang kelima yaitu si Lau Raja bertempat tinggal di Malau Simanindo, Nantinjo Tinggal bersama saudranya si Lau Raja. Pekerjaan Nantinjo sehari-harinya yaitu bertenun Ulos.

      Pada suatu hari datanglah seorang pemuda dari kampung Silalahi yang berada di seberang Danau Toba mencari seorang gadis yang akan dijadikan jadi istrinya. Pemuda itu membawa emas dan uang yang sangat banyak. Pemuda itu bertemu dengan Nantinjo dengan salah seorang saudaranya laki-laki. Pemuda itu hendak memeinang Nantinjo, tetapi Nantinjo tidak mau dan menolaknya. Karena ada kecacatan dari

dirinya sendiri yang tidak di ketahui sebagian dari saudara-saudaranya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasianya, tetapi ibunya sudah lama meninggal dunia. Maka ia di paksa oleh saudaranya yang belum mengetahui rahasia dari Nantinjo untuk menerima tunangan itu.

      Karena saudaranya melihat emas dan uang yang begitu banyak maka mereka memaksakan Nantinjo untuk menikah. Sehingga Nantinjo menuruti semua permintaan saudara-saudaranya. Tetapi dengan satu permintaan kepada pemuda tersebut bahwa Nantinjo meminta pemuda tersebut untuk pulang melintasi danau toba dengan sampanya sendiri (solu) setelah itu Nantinjo datang menyusul dari belakangnya dengan membawa alat tenun yang dipakainya sehari-hari. Permintaan tersebutpun di kabulkan oleh pemuda tersebut. Akan tetapi setelah Nantinjo menyusul lelaki tersebut dengan sampanya sendiri ia pun merasa kecewa kepada saudara-saudaranya, oleh karena itu setelah sampai di tengah danau, ia pun berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa meminta agar ia mati saja dari pada menikah dengan lelaki pilihan saudara-saudaranya. Tuhan pun mengabulkan permintaan nantinjo, sehingga hujan badai datang dan sampan Nantinjo tenggelam  bersama alat-alat tenunnya. Konon alat tenun Nantinjo terdampar ke pinggir Danau Toba di Huta Malau Desa Cinta Dame yang kemudian alat tenun Nantinjo tersebut yang terbuat dari bambu (Bulu) tumbuh dengan subur, sehingga masyarakat sekitar huta Malau menamakan bambu tersebut dengan sebutan “ BULU TURAK NANTINJO” 

 

HAJAJADI NI TAO TOBA

Najolo ditoruni dolok pusuk buhit adong ma sada baowa nasomarnioli dope namargoar Juara Dungdung.Pardengke do ibana.Dinasadari dipauli ibana ma sada bubu nabalga situtu. Alai dung ditaon,dang olo dapotan. Namabalgahu do ra,nina rohana di bagasan.Jadi naeng pamemetonna ma bubui.Alai adong maro soara tupinggolna mandok unang.Sundat madipametmet bubui,jala diulahi ma ditaon. Marsogotnai ditingkir mabubu nai.Tarsonggot ibana midah nadapot bubui, ai diida madengke apala nabolon.Ngajeaon,nina rohana.Sian dia doro dengke nasaon bolon tu binanga nasaon memet? Alai ni biarna ndang dipatuduhon be dengkei tu manang ise,alai ditabunihon ma i tu sopo.

        Marsogotnai ditingkir ma musedengke i.Hape diida ma naung gabe boruboru na uli do dengke,jala angka sisikna gabe ringgit.Ndang hapalang las ni roha ni Juara dungdung marnida boruborui dohot manang na olo do gabe tungganeboruna.Pintor dioloi boruborui do antong,alai adong do dipangido sijanjihonon ni si Juara dungdang, ima :manang ahape disogot-sogot ni ari na terjadi dipasaripehon na sida, tung so jadi dohonon boru-boru i gelleng ni dengke. Dung di bulan non juara dungdang perjanjian i hot ripe ma nasida.

         Salpu sataon tubu ma anak nasida. Alai mansai sengke do dakdanak i gabe sai loja do juara dungdang mangkurdohurdohon. Pola do jotjot ibana muruk. Di na sadari manombo ma muse laga ni dakdanak i. Anggo disi ndang haotapan juara dungdang be muruk na. Gasagasaon ma ibana jala dipandok ma angka hata na roa tu anakna i. Lupa ibana tu janji na, gabe didokma: naso hasea on, tubu ni anak ni dengke on!” dibege nioli nai , do hatanai, gabe dijouon boru-boru ima: “E, nungga dilaosi ho janjim. Tinggal ma ho dohot anakta i lao ma ahu!”

            Mangkat ma boru-boru i laos ditimbung ma tu bagasan binanga pardengkean ni juara dungdang, jala dang tarida be. Alai tongki ni siksa ma hilap, mardoromdorom ma ronggur, madabu ma udan tipotipo, mangullus ma alogo gas andalu, humuntal ma tano dihutar Naga Padoha laos marongrong. Gabe tarjadi ma Tao Toba na uli i.

 

LIANG, MUAL SI RAJA SONANG DI GALUNG GINJANG ONANRUNGGU, SAMOSIR

Parjolo sahali adongma sada keluarga ima digoari Raja Apparhutala. Anakna adong dua halak namargoar siraja Humirtap dohot si Raja sonang dohot tolu buruna ima namargoar. Siboru Saroding, siboru menahenak, siboru Nahot.

    Anakna naduai ima si Raja Humirtap dohot si Raja Sonang. Disada tingki borhatma nasida laho mangalului hotang asa adong laho pakkeonna paturehon sopo(jabu). Borhatma nasida sian urat manaripar tao toba tu Uludarat. Dung sahat nasida di luat i dapotnama hotanggi ditaba nasidama hotangi, hape dang boi. Pintor boi marumpak alana dangkani hotanggi maralit alitdo dohot hau naasing. Jadi sai diihutthon nasidama sahat rodi diujungni hotangi. Dung lam dao nasida laho mangihuthon ujungni hotangi, tarbegenasidama soarani baliga ni halak martonun, massai longang situtudo nasida nadua. Didok si Raja Humirtapma tu anggina si Raja Sonang “hira soarani Baliga ni ibototta” ninna.lam didapothon nasidama soarani baliga namartonun. Hape jumpangnama namboru si boru Saroding. Diboan si Boru Sarodingma ibotona na duai tu Bagasna. Dung sahat nasida hubagasna, longang situtu do nasida jala huht mardongan biar.ai nungga dodok siboru saroding hian hu nasida nadua “annon allangonni amang borum guru solundangon ma hami ninna” jadi disuguthon siboru saroding ma ibotonai hu para para jala dilukkupi dohot ijuk, satokkin nari pintor roma hubagasnai amang boru guru solundangon. Jala didokma hu buro Sarioding “ai songon nabau sidomu domudu ninna” jala dialusi si boru Sarodingma. Dang adongi rajanami. Unang pola mabiarho nina amang boru solundangon. jadi dipatuduhonma ibotona naduai di para para. Dungi tuat ma ibotona sian para para, jala mangkatai ma nasida, jala dilehonma mardaun pogu nasinalenggam. Dung sidung, naeng borhat ma nasida sian ulu darat laho hu urat samosir. Dipaborhat amang boru silundangon ma si Raja Humirtap dohot si Raja Sonang dohot mamboan dua hajut namarisi:  Bangkurung, hirik, hunik, harbui dohot lan naasing dope. Jala marpati patian do nasida. Di naborhat si Raja humirtap dohot si Raja Sonang mamolus Tao toba jala solunape bulung ni sumpit jala ikkon naso jadi manaili hu pudi. Jala hajut napinaborhatnai dang jadi buka onna  lelengna 7 ari 7 borngin. Dung piga ari si Raja Humirtap martahi do rohana laho mambuka hajutnai. Dung di buka hajut nabinoannnai, mangangkatima Bangkurung, hirik, harbue, hunik tongdo songoni dang marganti rupa. Alai molo si Raja Sonang sai

ma sadingotdo diparpatipatiani dohot amang boru solundangon. Naso jadi bukaon hajut i molo so 7 ari 7 borgin. Dung jumpang tingkina dibuka si Raja Sonang ma hajut ni ibanai, pintor mangatkatma bakkurung gabe lombu, hirik gabe horbo, harbue gabe ringgit hunik gabe mas. Jadi roma si Raja Humirtap didokma hu si Raja Sonang, ingkon bagionnama artanai, jadi dangolo si Raja Sonang. Dinasoolo si Raja Sonang dipukkama parbadaan. Jala adongdo parpati patianna tippul ni apiku naso jadi domu hu tippul ni api. Jala santungni pisangku dang boi mandompakkon parhutaanmu. Dungi martahima si Raja Humirtap nalaho mambunu si Raja sonang, hape diboto si boru sarodingma, dipabotohonma hu si Raja Sonang didokma “ito borhat maho, ai nunga martahi si Raja Humirtap nalaho mambunu ho. Borhatma si Raja Sonang hu habissaran ima di Galungginjang, desa Pardomuan, kec Onanrunggu. Jala diboanma sude artanai. Sahat ma ibana hu luat i dipauli ma sada liang songon ingananna digardani lombangi di topi ni binanga. Dungi dipauli ma 7 mual digoarimai liang dohot mual ni si Raja Sonang. Dihatahon si Raja Sonang ma hu pinompaarna, molo ise pomparanhu dibagasan parsahiton, martapianma hamu hu mualhu asa malum malum sahit muna jala dulo hamu inganahu(liang). Ikkon dapot nauli jala nadenggan ma hamuna. Martangiangma hamu di ingananku(liang) asa dapot pandaraman, jampalan nalomak mahamuna. Mansai godangdo jolma(tarlumobi) pinomparna naro hu liangi dohot mual nng songoni tu udean nai.  Songonia turi turian ni Liang, Mual ni si Raja Sonang

 Horas…………………….! Horas………………………..! Horas………………………..!

 

MUAL DAN LIANG DATU PARNGONGO

Seperti halnya Ompu Sijolo-jolo tubu yang lain dan sebelumnya, Datu Parngongo konon adalah Datu Bolon atau Dukun Sakti Mandraguna. Begitu tinggi kesaktian yang dimiliki, sehingga pada suatu saat, ia tanding kesaktian ke Barus. Dalam perjalanan pulang dari tanding kesaktian tersebut, sampailah ia di Pollung di Humbang Hasundutan sekarang. Saat berjalan sendirian, didengarnyalah sayup-sayup dendang putri Raja Pangisi (marga Lumban Gaol) bernama Tagannahabuloan.

Ia berjalan menuju asal nyanyian, tetapi ia tidak dapat melihat si penyanyi. Karena begitu penasaran, ia pun mencari-cari dan bertemu dengan raja Pangisi. Sang raja bertanya, “ mau apa kamu ke kampung kami ini?” “hanya jalan-jalan, amang,” kata datu Parngongo menjawab sambil menyembunyikan rasa ingin taunya, siapa sipenyanyi. Kemudian Raja Pangisi mengajaknya kerumahnya. Gadis itupun menyanyi lagi. Datu Parngongo begitu terlena dan hanyut oleh indahnya suara si penyanyi, tetapi wajahnya belum terlihat, walaupun sumber suara berada di dekatnya.

Karena sudah tidak tahan dengan rasa penasaran, Datu Parngongo bertanya kepada Raja Pangisi, katanya, “maaf, bapak Raja. Dimana gerangan putri raja yang menyanyi itu? Saya ingin melamarnya.” Tetapi Raja Pangisi menjawab, “saya tidak sanggup memenuhi permintaanmu, Nak, kalau kita tidak mengadakan sumpah (marbulan) terlebih dahulu bahwa engkau tidak akan menyia-nyiakan putriku nanti.”

Pada saat mereka berdua sedang asyik ngobrol, nyanyian si gadis semakin menggoda, yang membuat perasaan Datu Parngongo semakin hanyut dan tidak mampu menolak persyaratan Raja Pangisi. Ia pun setuju untuk mengadakan sumpah.

Kemudian Raja Pangisi memanggil putrinya. Betapa terkejutnya Datu Parngongo, karena sang putri hanya seukuran jagung berkulit, baik besar maupun panjangnya. Tetapi karena sumpah sudah terucap, Datu Parngongo tidak bisa menghindar untuk tidak menikahi sang putri. Merekapun dikawinkan Raja Pangisi. Setelah upacara perkawinan selesai, putri Tagannahabuloan pun dibawa Datu Parngongo ke Tamba Na Godang, kampung ayahnya. Karena ukuran badannya yang demikian kecil, ia pun dimasukkan Datu Parngongo ke dalam tas gendong (salipi).

Karena Datu Parngongo adalah dukun sakti, setelah tiba dikampungnya, ia berniat menempa istrinya kembali. Semua kebutuhan dipersiapkan, yaitu kurban, tikar tujuh lapis, ulos ragidup. Kemudian ia pun berdoa kepada Ompu Mula Jadi Na Bolon dan Ompu Sijolo-jolo Tubu. Setelah doa selesai dipanjatkan dimasukkannyalah istrinya ke dalam periuk besi yang sudah dipanaskan. Kemudian meloncatlah seorang gadis dari periuk besi ke atas ulos ragidup, sementara kulitnya sebagian berubah menjadi emas dan sebagian lagi menjadi ular periuk (Ulok Balanga) yang menempati separoh rumah panjang Datu Parngongo.

Kemudian Datu Parngongo mencari nama baru bagi istrinya, yaitu siboru Hapaspinilian. Kalau ada yang menatapnya akan hilang ingatan. Kabar penempaan sang putri pun sampai ke telinga Raja Pangisi yang membuatnya marah dan geram, demikian juga dengan seisi kerajaannya. Raja Pangisi pun mengumpulkan semua pasukannya, termasuk harimau, untuk menuntut Datu Parngongo.

Mendengar rombongan Raja Pangisi datang membawa pasukan perang termasuk harimau, dengan tenang Datu Parngongo datang menjemput ke Padang dan diajak ke kampungnya. Tetapi karena Raja Pangisi datang dengan amarah, ia meminta agar putrinya yang datang menjemputnya. Pesan itupun disampaikan kepada Siboru Hapaspinilian.

Kemudian Siboru Hapaspinilian datang bersama ular periuk menjemput kedatangan ayahnya. Melihat putrinya sudah lain, Raja Pangisi tidak mau mengakui kalau yang dihadapannya adalah putrinya, betapapun mereka mencoba meyakinkannya.

 Karena itu Raja Pangisi berkata, “Pinsur Ulu Ni Sulum, sulun do sulum hian. Boha pe roa di boru, boru do boru hian. Uli pe rupam, huida ndang todoonku ho gabe borukku.” Artinya sekalipun putrinya jelek, Raja Pangisi tidak mau menerima begitu saja Siboru Hipaspinilian sebagai putrinya.

Singkat cerita Datu Parngongo dan istrinya memiliki tujuh anak. Pada suatu saat, Datu parngongo mengumpulkan anak-anaknya dan menanyakan keinginan mereka masing-masing. Dari ketujuh anak Datu Parngongo hanya keinginan anak bungsunya yang bernama Marhata Ulubalang yang dipenuhi oleh Datu Parngongo. Sehingga timbul rasa cemburu dalam pikiran anak-anaknya yang tidak mendapat restu dari ayah mereka.

 Akhirnya mereka sepakat membuang Datu parngongo ke suatu jurang yang dalam sekali. Tetapi rencana anak-anaknya itu sudah terlebih dahulu diketahui oleh Datu Parngongo. Oleh karena itu Datu Parngongo berpesan kepada anaknya yang paling bungsu, “Kalau memang mereka ingin membuang aku ke jurang, kamu pura-pura iktu membantu mereka.” “Tetapi kamu harus punya akal untuk membuat sebuah peti dan masukkanlah seekor kambing kedalamnya. Karena ketika peti tersebut dimasukkan kedalam jurang, kambing tersebut akan bersuara sehingga mereka mengira bahwa yang adalah dalam peti adalah aku dan berpikir bahwa aku sudah mati.” Sebelum rencana anaknya terjadi Datu parngongo telah membuat lobang yang sangat dalam sebagai tempat persembunyian dan membuat “Mual Parangir-angiran” juga sebagai temapt memasak.

Gua batu itulah yang disebut dengan Liang Ni Datu Parngongo. Dekat ke gua itu ada pula mata air. Mata air inilah yang dipakai Datu Parngongo selama dalam persembunyiannya. Mata air itu disebut Mual Ni Datu Parngongo.

 

Saribu raja dan siboru pareme sebenarnya kakak beradik kandung (namariboto) pada masa itu jumlah manusia masih sedikit. Saribu raja mencintai adiknya sama seperti mencintai gadis lain. Keduanya terlanjur seperti suami istri, sehingga siboru pareme mengandung anaknya Saribu Raja. Mengetahui keadaan itu, saudaranya yang lain sagala raja, dan malau raja sangat murka dan berupaya membunuh kedua saudaranya saribu raja dan siboru pareme. Tetapi saudaranya itu tidak tega membunuh saribu raja dan siboru pareme. Akhirnya mereka sepakat membuang mereka ke tengah hutan atau tombak longo-longo secara terpisah. Siboru pareme dibuang ke wilayah ulu darat di atas sabulan dan saribu raja dibuang jauh kearah barat (Barus).

 

 PARHUTAAN SI BORU PAREME

Suatu ketika siboru pareme yang sudah hamil tua dan kesepian, dikejutkan oleh seekor harimau yang mengaum mendekatinya. Namun karena terbiasa melihat harimau dan penderitaan yang dialaminya, ia tidak takut lagi dan pasrah untuk dimangsa. harimau membuka mulutnya lebar-lebar dihadapan siboru pareme seakan meminta bantuan. Dari jarak dekat siboru pareme melihat ada sepotong tulang yang tertancap di rahang harimau itu. Tanpa ragu siboru pareme mencabut potongan tulang itu dan dibuangnya. Setelah itu harimau yang dikenal buas itu menjadi jinak kepada Siboru Pareme. Sejak itu harimau yang dikenal BABIAT SITELPANG setiap pagi dan sore mengantar daging hasil buruanya ketempat siboru pareme. Budi baik yang diterimanya dari wanita yang sedang hamil tua itu menumbuhkan rasa sayang BABIAT SITELPANG yang diwujudkanya dengan tetap menjaganya hingga melahirkan. Dan si boru pareme memberi nama SIRAJA LONTUNG.

            SIRAJA LONTUNG yang hidup dengan ibunya di tengah hutan sekitar Ulu Darat selalu didampingi oleh BABIAT SITELPANG. Namun siboru pareme selalu memberi pengetahuan kemasyarakatan kepada anaknya termasuk partuturan adat batak.

            Setelah Siraja Lontung berenjak dewasa dan sudah bisa menikah, ia bertanya kepada ibunya dimana kampong tulangnya. Ia sangat berniat menikah dengan boru tulangnya. siboru pareme selalu berupaya mengelak dari pertanyaan anaknya. Namun karena tidak ingin anaknya menjadi korban kemarahan tulangnya, akhirnya siboru pareme membuat siasat. Ia harus mengorbankan dirinya untuk dikawini SIRAJA LONTUNG, karena tidak  ada manusia dihutan itu.

            Suatu malam menjelang tidur siboru pareme memanggil anaknya. Sudah sejak lama kamu menanyakan boru tulangmu, sebenarnya anakku kamu sudah saya bohongi. Boru tulangmu itu persis seperti saya, baik postur tubuh dan rambutnya, tingginya juga sama dengan saya. Pergilah mencari paribanmu. Kalau saya mencari ayahmu ke barus. Kamu dan istrimu tinggal disini.

            Siboru pareme memesankan jangan sampai masuk ke kampung tulangnya, tetapi lihatlah boru tulangmu tengah mandi sore di pansur sana. Kata ibunya sambil menunjukkan sebuah pansur dari atas perbukitan Ulu Darat. kamu nanti berjalan dari sana, kalau kau langsung turun dan tembak lurus, kamu akan kesulitan, saya kuatir kamu masuk jurang, kata ibunya sambil mengarahkan SIRAJA LONTUNG mengambil jalan melingkar kepansuran itu walaupun ada jalan yang lebih cepat menuju tempat pansuran itu.

            Setelah Siraja Lontung berlalu, siboru pareme bergegas pergi kepancuran yang ditunjukkanya kepada anaknya. Ia mengambil jalan pintas dan tiba  lebih awal dari SIRAJA LONTUNG.  Dengan tergesa-gesa dia membuka pakaian laklak dan mandi di pansur itu. Waktu sudah semakin sore, matahari sudah mulai tenggelam. SIRAJA LONTUNG semakin mendekat. Ia mendengar ada manusia tengah mandi di pansuran itu. Berarti benar apa yang diberitahu ibuku. Katanya dalam hati, sambil mengintip dari celah-celah pohon. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan paribanya. Karena hari sudah gelap Siraja Lontung segera menghampiri paribanya. Setelah si boru pareme selesai menutupi tubuhnya dengan kain lak-lak.

            Santabi boru ni tulang, saya ingin menyampaikan pesan ibuku, kata Siraja Lontung dan menggapai tangan siboru pareme serta meremas jari perempuan yang disebut paribanya itu. Dan menyelipkan cincin ibunya kejari manis dan ternyata pas. Berarti tidak salah lagi kaulah paribanku itu.

            Malam semakin pekat, keduanya pulang sesuai pesanan ibunya. Namun SIRAJA LONTUNG terkejut sebab ibunya tidak lagi di jumpai di rumahnya. Ia teringat pesan ibunya bahwa siboru pareme pergi mencari ayahnya SARIBU RAJA. Keduanya hidup serumah dan menjadi suami istri, dan lahirlah anak mereka tujuh laki-laki dan satu perempuan. Masing-masing bernama: Toga sinaga, Toga situmorang, Toga pandiangan, Toga nainggolan, Toga simatupang, Toga aritonang, Toga siregar.dan datu-satunya putri, dia kawin dengan marga Simamora. Namun setelah perkawinan mereka, tidak lama kemudian suaminya meninggal dan dia kawin lagi dengan marga Sihombing.

 

SAMPURAN NAPITU

Najolo adong sahalak anak boru dihuta sigarantung na margoar si boru langgatan na dipaksa muli tu anak ni namboru na sian huta Tomok. Alani mangoloi ajar ni natuatuana dioloi pangidoan ni amana I muli tu anak ni namboruna. Di ari na uli di ari na denggan dapat ari pengalapan ni boru, roma uduran ni paranak laho mangalap si Boru Langgatan  tu huta Sigarantung. Di na mardalan nasida laho tu huta Tomok di tongadalan maradian si Boru Langgatan, di topi dalan tubu adong pansur.

Mangido maridi si Boru Langgatan di pansur i jala saut do ibana maridi. Sai dipaima natuatuana dohot paranak ma si Boru Langgatan on ndang marna kaluar sian pansur i, hape naung gabe batu do si Boru Langgatan i alai sanga do ibana martona ninnama,

Amanag parsinuan dipaksa ho do au tu Anak ni namboru, alani godang ni tuhorhu. Hape gabe songon on do bagian hu husogot ni haduan molo mamolus sian on tokke horbo laho tutoruanna, ingkon peakhononna do dison ringgit asa boi mamolus horbonai alani i jalo ma torus tuhorhu mulai ari sadarion rodi salelenglelengnai mangangguk gobar ma sude sisolhot namarnida na masa I songoni ma turi-turian ni si Boru Langgatan. 

 

SIPISO SOMALIM

 Takaki tabu…..Ahai oppugn, hudia lao tulang mu, asa huboto oppugn holan namarangan-angan do nuaeng tulangi pokokna holan natulangon do tulangi, antong jou ma jo tulangmi huson, olo opung alai jolo mandalgup ma au, olo.

Ah………tahe nungnga songon on balga niba alai las so huboto atik na adong tulang niba manang dang, nibereng akka dongan adong be tulangna, sipata dituhor sipatu, dituhor baju na adong muse mangaleon tintin hape au holan hutanda tulanghu nungnga las rohakku. Ikkon sukkun onku nama dainang ina sipiso somalim.

Inong…..Adong naeng husungkun tu ho, apala aha huroa anakku? Songon do inong sai sungkun-sungkun roha olo do ro mangiburu molo mamareng si dongan magodanghu namartulang jadi na husungkun adong do tulanghu? Eh anakku unang taringoti I hasian, boasa dohononmu songin inong, naung marujung do tulangi? Dang i maksudhu anakku, unang sai taringoti be I, nungnga mai amang so martulang pe dang pola boha tong do mangolu, daong inong alusanmu do nahudokkon I, naso diantusi ho do (muruk) dang adong tulangmu mapultak sian bulu do au, madekdek sian langit nungnga!

Huh…dang adong hape tulang naboha nama bagianku bulu…..mulai sadarion jouonku nama ho oppugn jaga-jaga onku nama ho, alai tahe holan inong do mapultak sian bulu dang dohot tulang mapultak sian ho?

Heei piso somalim marhu ho disi? Marhua ho disi manghata-hatai sasada ho dohot bului sotung idokkon jolmai ho narittikda! Dang narittik au oppung namanungkun tulang do au sian buluon ala didok dainang napultak sian bulu do inna ibana, berarti bulu on do oppugn jadi sihol rohakku

Roma ho huson, ison ma hita manghata-hatai pahundul ma piso asa hupatorang tu ho, olo oppung, na songon dia do didok inongmu tu ho, na husukkun do tulang tu inong oppugn. Alana sappe sadarion so hutanda tulangku, alau idokkon inong dang adong tulangmu mapultak sian bulu do ibana, madekdek sian langit, base dokkononna songon I ate, ima naso hubotoi. Atik iboto oppugn partuturan di keluarga name na so adong do tulanghu. Adong do nian andorang mangolu amongmu jot-jot do ro tulang mi kompak hian halak songon namartinodohon, di tingki marujung pe amongmu ro do tulang mi alai dukkon I dang hea be ro, na boha do tutu I oppugn? Mungkin marsalisi paham halaki dohot inongmu tingki di bortian do ho. Adong do najolo dipasahat oppungmu pusaka tu amongmu dukkon Ima tarbarita parikni amongmu natimbo. Anggo mutiha dang adong naboi mangalo ilmuna, boi do dipahabang losung, molo adong namasa diluaton ondo parjolo disi, ido ate oppugn, nahebat do hape mungkin ala ni pusakai do, parbadaan ni halakki diboto oppugn do idia huta ni tulang i? dang huboto inongmu masukkun! Molo songon I mauliate ma oppugn.

Takkal tabu…….takkal tabu aha oppugn, lagi marhua ho? Mandalgup oopung. Unang idokkon ho mandalgup ro a begeon mangan ma dok, sarupa do I oppung, aha hian oppugn? alut jo pat hon, tudia lao tulangmu? Dibonani buluan nama torus oppugn. Marhua disi? Manghata-hatai disi didok ma tu bului hona oopunghu, disigati bului, mangan pe disi nama torus sipata ilehon mangan bului pokokna hira narintik ma tulang I, unang idokkon ho narittik tulang doi, alai boasa gabe songonni tulang mi ate? Ho do mambaeni oppugn idokkon ho hu tulangi dang adong tulangmu mapultak sian bulu do au, madekdek sian langit gabe idokkon bulu opungna. Aha muse idokkon? Mulai sadarion dang boi adong manaba bulu on, ianggo so parbinotoanku molo adong namanjma ho au ma alona sipiso somalim sipiso ipul-ipul, ima pandokna.

Molo songon I jou jo tulangmi, olo oppugn jolo mandalgup ma au da, tulang……….tulang ijou inong ho… olo tulang aha inong ate manghata-hatai inna ho tu bului. Ido inong dang hudippo songoni rikkot niroham tu tulangmi, saonari paboa okkuma adong do tulang mu dao di naga timbul,bah adong do hape tulanghu molo songon I lao nama au tu jabuni tulang i. Dao do jabuna dalanan rura, harangan dohot dalanan aek (udan haba-haba pe surukkon hu do, molo boti lao maho, alai paborhaton do ho dohot ribur (marpesta). Takkal tabu, ou tulang papungu paheanta dohot bohalta dua ari on, olo tulang jolo mandalgup ma au da….

Nion anakku boan ma on panjaga ni dagingmu, aha on inong onma nanidokna piso so somalim, dohot pungga haomasan, unagg adong maniop suhul ni piso on da. Alana hu na manioppi do lao kekuatan ni piso on. Dang piso biasa on, on ma nanidokna piso sosomalim, aek idege, aek marjullak-jullak, aek idege aek marnimbur-nimbur, batu idege batu akka tipul, pungga haomasonon aha lapatan molo mauas ho anggoma, sombu uas dang pola minum, mago rapar dang pala mangan, oh ido ate inong borhat ma jo hami, olo manat-manat hamu da.

Dung dipardalananan ditogihon sitangkal tabu ma martapian sipiso somalim, parjolo ma ho takkal tabu, daong tulang hamu do parjolo tulang, tokka dang hea ijoloi pat na pudi pat najolo, ido ate, molo boti jaga ma pahean ho aasa martapian ahu, olo bere tulang (tikki martapian sipiso somalim dipake sitakkal bulu tabu ma bajuna) base pakkeonmu paheanku takkal tabu, sippo disi dang iantusi ho, unang suba-suba humosa so hutagil, unang marmean-mean ho tulang, dang marmeam-meam au, mulai sadarion au nama sipiso so malim honama sitakkal tabu. Au nama raja ho nama hatoban, unang marmeam-meam ho takkal tabu, dang marmeam-meam au, mulai sadarion, ingkon sude parettaku turutanmu, jala ikkon marsumpah do hita ihuton, dekke ni sabulan hutonggina hudaina, ise siose padan turippurna tumagona olohon. Ala raja name, dung sadia leleng sahatma halakki dijoloni jabuni tulangnai, naeng pajumpang dohot raja I do au, ise hamu? Sipiso somalim. Tulang…. tulang au do I berem si piso somalim sian naga timbul, bah ho do I bere, manghata-hatai ma nasida dohot tulangna dohot nantulangna. Alai tong humaroppur pangalahona mambaen curiga nantulangna. Songoni nang pariban nai curiga do dang lomo rohana mamereng paribannai, jala idokkon dang tanda ho anak ni raja sombong hian. Among…….. hubege marende si takkal tabu aha endena borukku, pak….. pak inna soara ni hapak-hapak timbo dolok martimbang boi diaromasda tulang I hape au anak ibeberena soditanda tulangi, baru among jumpanghu on sian lombungna, Baa baaa marhua tusion nai sipiso somalim do on rap dohot piso, aha do huroa on among, on ma pungga haomasan pusaka sian oppungmu on ma mambaen parbadaanhu dohot namboru. Jou majo pariban mi, olo among aha tulang, adong maho ugasanmu, dang adong tulang, nion ditanda ho do on?, ai belek-belek do I tulang, molo songoni laho ma ho tudapur an, mandalgup ale tulang mauliate tulang, boru jou majo sitakkal tabu, aha rajanami? Adong mago ugasanmu? Molo adong pe rajanami dang jumping be I, intanda ho do on, pungga haumasan do irajanami, handia  tu ho on, sian dainang, ise goarmu? Sitakkal tabu rajanami, ise goar ni amongmu? Boru tompul sohpurpuran ise goar ni oppugn mu? Niantan mangan, niantan minum, sian dlok saribu, sahalinai, ise goarmu sitakkal tabu rajanami, among….ahai boruku adong hoda jala iboan parhalaan, boa ma tuson asa nijaha, ito manang ise naboi manjama hodaon ido ibeberem, piso takkup jo hodaon, dang olo tulang ditikdik do au, unga marmudar-mudar babaku, takkal tabu tangkup jo hoda on, olo tulang, among burjuhian do hoda I, iummai, ihaol, tangis hoda I, molo boti, ido paribanmu situtu, lehonma pahean nadilamari, dohot ulos na jeges, paheonna olo among, jou-jou huson sitakkal tabui, ise do ho sebenarna, sipiso somalim tulang, sahali nai, piso somalim tulang, hurang ajar…., pangoto-otoi do ho. Pamateonnama ho, jora ma au tulang sitakkal tabu pe taho au anggo lao mate do. Base margabus ho? Sian sigampang tu sigompui, sian damang tu da oppugn torus holan hatoban, jadi mate pe taho au as alma naung hea raja. Hurang ajar…….

Jou ma husson borutta, dohot beretta, nungnga laho halakki tu naga timbul mar hoda, ba…baa… bohanamai hape nungnga tapaorohon ibana tu si raja dungdang siraja pane. Boha bahenon so naise mangaluahon beretta do. Baaaaa…baaaa padualihu ma ibaen par nagatimbul songon ni pahassit rohakku. Betama tapaboa tusi raja dungdang naung mangalua borutta, betama tutu……

 

TUNGGAL PANALUAN

Adongma najolo sada halak maringanan di pat ni dolok Pusuk Buhit na margoar Guru Hatiabulan. Dina sadari tumagam haroan ma tunggani boruna. Alai tung leleng asa tubu na di bortian, pola longang sude halak. Masa muse ma tingki i logo ni ari si rangga puri, gabe ro ma torop raja mambahen bada tu Guru Hatiabulan, ai dipingkir nasida ala ni tunggani boruna i do umbahen na masa logo ni ari na so marsamari i. Untung do ndang pola tiris mudar hinorhon ni bada i .

            Dung salpu manang  sadia leleng, tubuma na di bortian, silinduat namarporhas, (baoa dohot boru – boru ). ” Hatop ma sirang “ ninna angka donganna raja tu Guru Hatiabulan. Alai ndang dipekhon ibana hata ni angka donganna i. Hape dung balga angka dakdanak i, di ida Guru Hatiabulan ma na so toho be marpangalaho dakdanak nadua i. Gabe di boanma nasida tu punsu ni dolok Pusuk Buhit. Dipature ma sopo –sopo inganan nasida disi, jala ditinggalhon ma di si rap sada biang. Sai ditarui Guru Hatiabulan ma sipanganon nasida. Ia goar ni dakdanak boru –boru i si Tapi  Omas na Uasando, jala goarni baoa i si Aji Donda Hatahuton.

Dina sadari mardalandalanma si Tapi Omas na Uasan, gabe di idama hau piupiutanggule na marparbue. Di jangkitma hau i laho mambuat parbuena, hape laos lohot ma di hau i. Roma ibotona naeng manolong ibana, hape laos dohot ma lohot nang si Aji Donda Hatahuton di hau i. Marsakma Guru Hatiabulan marnida namasai. Dijouma datu na margoar Parmanuk Holing, hape laos dohot do datu i lohot di hau i. Dijouma muse datu na asing, alai tong do laos lohot di hau i. Songon i ma muse songon dohot lohot di hau i datu si Aji Bahir, Datu marangin Bosi, dohot datu Pongpang Niobungan. Laos songon i muse datu Boru Sibasopaet dohot sada ulok.

            Jutma  rohani Guru Hatiabulan Marnida na masa i. Alai ro ma sada datu na margoar datu Parpansa Dinjang manawarhon jasana. Disuru datu i ma Guru Hatiabulan mamele nasa begu dohot sombaon. Dungi didok datuima tu Guru Hatiabulan :” Bolama hau i jala paulima di ho siani sada tungkot. Gana ma tusi sude na lohot tu hau i hian “. Dungi di bahen Guru Hatiabulan ma songon na nidok ni datu i . Digana ma tu tungkot i lima baoa, dua boru-boru, sada biang dohot sada ulok.

Dung i  margondang manasida. Diseat ma sada horbo. Dipantikhon Guru Hatiabulan ma tungkot na i tujolo  ni sopo. Manortor ma datu Parpansa Dinjang, gabe siar ma tu ibana  angka na lohot di hau i. Didok angka begu i ma :”Ale amang Panggana, digana ho hami marmata hape so marnida, marpinggol hape so marbinege, marbaba hape so boi mangan. Ala niburaan nami ma ho.

Alai didok datu i ma: “Raut i ma burai hamu!” Hape ro ma raut i, didok ma :”Unang au burai, panopaan i ma burai hamu!” Alai ro ma panopaan i, didok :” Ndada ahu na marsala, Guru Hatiabulan do.” Dungi ro ma Guru Hatiabulan, didok ma :”Unang ahu burai hamu,alai diri muna sandiri ma burai hamu, ai hamu sandiri do na madabu tu lombang jala na purpur!” ninna.

Dung I didok angka begu na siar i ma :”Antong Amang, pangke ma hami to joloan on. Si paro udan ma hami molo porlu, si ontak udan na magodanghu, si lehon poda di uhum dohot pangarajaion,si ambat tahi ni panangko dohot panamun. Botima” 

 

BATU BOLON SITAPITAPI

Batu bolon sitapi-tapi atau sering disebut sebagai batu parpadanan terletak di Sitapi-tapi/ Sibuhamata dusun I, Desa Sabulan, Kecamatan Sitio-tio. Batu bolon Sitapi-tapi terletak di kawasan ulu darat.

Legenda Batu Bolon Sitapi-tapi adalah sebuah legenda yang mengalami proses yang sangat panjang, yang dimulai dari legenda sepasang putra-putri Ompu Guru Tatea Bulan dengan Siboru Sakti atau Sibaso Bolon yakni Tuan Saribu Raja dan Siboru Pareme yang memadu kasih terlarang sehingga siboru pareme hamil.

Demikianlah terjadi, Siboru Pareme dibuang adik-adiknya ke Ulu Darat. Disanalah, melalui penelusuran kulit padi, Tuan Sariburaja menemukannya. Sebelum adik-adiknya kembali ke parik sabungan, mereka mengucap sumpah dan janji dengan bulan sebagai saksi bahwa mereka tidak akan pernah menceritakan hal itu kepada siapapun, termasuk ayahanda mereka yang ditinggal sang istri Siboru Sakti yang telah kembali ke Banua Ginjang karena mengenakan baju terbangnya saat Guru Tatea Bulan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Sumpah dengan bulan sebagai saksi itulah munculnya kata “Sa-Bulan” sehingga mereka yang melakukan hal yang sama disebut “marsabulan” atau bersumpah.

Karena tidak ada air di puncak Ulu Darat, Tuan Sariburaja dan Siboru Pareme mencari tempat tinggal bagi mereka di dataran di bawah puncak ulu darat. Pada saat perjalanan itulah mereka dicegat Babiat Sitelpang (Harimau Timpang) yang meminta mereka mengeluarkan tulang yang tersangkut di kerongkongannya.
Babiat Sitelpang meminta Siboru Pareme mengambil tulang yang tersangkut di kerongkongannya sambil berkata “Apabila anak yang engkau kandung adalah anak laki-laki, maka ia akan menjadi Datu Bolon (Dukun Sakti Laki-laki). Jika ia adalah anak perempuan, maka ia akan menjadi Sibaso Bolon (Dukun Sakti Perempuan).

Didaratan inilah mereka mendirikan pondok dan tempat itu disebut Banuaraja atau Baniaraja, yang artinya adalah tempat lahirnya raja-raja. Hanya sebulan berselang, setelah yakin akan perhatian Babiat Sitelpang terhadap Siboru Pareme, Tuan Sariburaja pun pergi meninggalkan Siboru Pareme sendirian bersama anak di dalam kandungannya di Banuaraja dengan pesan , apabila anaknya lahir harus diberi nama Raja Lontung dan kepadanya diserahkan sebuah cincin yang disebut Tintin Sipajadi-jadi, yang dititip kepada Siboru Pareme, jika saatnya tiba, Raja Lontung akan mencari dan menemukan Tuan Sariburaja dengan perantaraan cincin tersebut.

Sejak itu, hanya Babiat Sitelpang yang mengurus Siboru Pareme. Dan setelah Putranya lahir, yang dinamai Siraja Lontung, beruang madupun ikut memelihara mereka dengan membawa madu. Itu sebabnya putranya diberi nama Siraja Lontung atau Siraja Altong, karena sejak lahir ia sudah berkerabat dengan Altong atau lebah hutan. Konon, beruang hutan inipun termasuk wujud lain dari Raja Uti (Abang Siboru Pareme), yang sengaja tidak pernah memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya kepada itonya, Siboru Pareme.

Setelah Siraja Lontung menginjak dewasa, Ibunya Siboru Pareme, menyuruhnya kekampung halaman pamannya di Sianjur Mula-mula di bawah Gunung Pusuk Buhit untuk mencari putri pamannya yang menjadi istrinya, agar ada teman mereka. Karena Siraja Lontung adalah anak yang berbakti kepada Ibundanya, Siraja Lontung pun mengiyakan permintaan Ibundanya. “Baik, Bu. Saya akan berangkat,” sahutnya kepada ibunya dengan tulus hati.

Sebelum Siraja Lontung berangkat, Ibundanya berpesan bahwa putri pamannya akan ditemuinya di sebuah mata air bernama Pansur Jabi-jabi Sipitu Dai. Dipesankan pula bahwa paras maupun rambut putri pamannya persis seperti paras dan rambut ibundanya. Kepada Siraja Lontung pun diberikan sebuah cincin, yaitu Tintin Sipajadi-jadi, dengan pesan, apabila Siraja Lontung sudah menemukan gadis dengan ciri-ciri tersebut, maka Siraja Lontung harus mencocokkan cincin itu dengan jari gadis tersebut. Jika cocok, itulah putri pamannya yang menjadi pilihan hati Ibundanya Siboru Pareme. Setelah memahami petunjuk Ibundanya, Siraja Lontung pun berangkat membawa bekal secukupnya.

Siraja Lontung tidak tahu bahwa setelah ia pergi meninggalkan Banuaraja, Ibundanya pun berangkat ke Sianjur Mula-mula dengan mengambil jalan lain sehingga mereka tidak bertemu di jalan. Kalau Siraja Lontung datang melalui punggung bukit, Siboru Pareme datang lewat lembah Harian ke Sianjur Mula-mula, sehingga yang duluan sampai ke Aek Sipitu Dai adalah Ibundanya, Siboru Pareme.

Setelah siboru Pareme sampai di mata air itu, ia pun berdoa kepada Ompu Mula Jadi Nabolon dan Ibundanya, Sibaso Bolon, agar wajahnya kembali lebih muda seperti wajah gadis muda pada umumnya, agar Siraja Lontung tidak mengenalinya sebagai Ibundanya. Permohonannya dikabulkan dan kemudian Siboru Pareme keramas di Aek Sipitu Dai. Hingga sekarang masih terdapat di Aek Sipitu Dai batu tempat paranggiran Siboru Pareme tersebut dengan tujuh lubang dipermukaan batu.

Setelah Siraja Lontung bertemu dengan seorang gadis (Siboru Pareme) dan mencocokkan Tintin Sipajadi-jadi dan ternyata cocok, maka Siraja Lontung membawa Siboru Pareme ke Banua Raja untuk bertemu dengan Ibundanya agar Siraja Lontung dan Ibundanya pergi bersama ke rumah tulangnya, akan tetapi Siraja Lontung tidak bertemu dengan ibundanya. Siraja Lontung sudah mencari kesemua tempat yang biasa dikunjungi Ibundanya tetapi tidak ketemu jua. Karena sudah menunggu berhari-hari Ibundanya tidak muncul juga, akhirnya Siraja Lontung dan putri pamannya tidur bersama.

Lama kelamaan, Siraja Lontung pun mulai memahami apa yang terjadi. Ia akhinya menyadari bahwa wanita yang dikatakan Ibundanya putri pamannya adalah Ibundanya sendiri. Tapi karena sudah terjadi demikian tanpa sepengetahuannya, Siraja Lontung hanya terdiam merenungi apa yang sudah terjadi. Melihat Siraja Lontung sering melamun dan tidak pernah menanyakan hal itu kepada istrinya, Siboru Pareme dapat merasakan bahwa putranya, yang sekarang menjadi suaminya, sudah mengetahui kejadian tersebut.

Karena itu, Siboru Pareme mengajak Siraja Lontung ke suatu tempat di bawah Banuaraja. Ditempat itu terdapat beberapa batu, sehingga tempat itu disebut Matu Martindi dan ada juga yang menamainya Batu Marompa. Salah satu dari batu itu tampak lain. Jika warna batu lainnya adalah hitam, maka batu yang satu ini tampak putih. Besarnya pun sangat berbeda. Bagian atas batu ini rata dan sangat cocok untuk tempat duduk-duduk. Siboru Pareme mengajak Siraja Lontung naik ke atas batu tersebut. Disitulah Siboru Pareme mengatakan hal yang sejujurnya kepada Siraja Lontung. Disitu pula Siboru Pareme mencurahkan semua beban hati yang telah ditanggungnya selama ini yang belum pernah terungkap kepada siapapun, yakni bagaima ia diusir adik-adiknya dari Parik Sabungan, kampungnya, setelah ia mengandung Siraja Lontung. Pokoknya, dibatu itulah Siboru Pareme mangandunghon segala penderitaan hidupnya kepada Siraja Lontung, agar tidak ada satupun rahasia lagi diantara mereka, “patar songon indahan di balanga”. Yang dicurahkan Siboru Pareme bukan hanya kesedihan, tetapi juga janji yang diterima dari Ibunda, Sibasi Bolon, dan Ompu Mula Jadi Nabolon bahwa keturunan mereka akan seperti bintang dilangit dan pasir ditepi pantai banyaknya serta menyebar ke seluruh penjuru mata angin.

Untuk mengakhiri lembaran lama hidup mereka dan sekaligus membuka lembaran hidup baru sebagai istri-suami, Siboru Pareme mengajak Siraja Lontung mengucapkan sumpah yang tidak boleh dinodai. Isi sumpah itu adalah “Batu na met-met batu nabolon parsoburan ni Sitapi-tapi, mate na met-met mate nabolon unang adong siombus api”. Karena mereka berdua mengucapkan sumpah itu di atas batu besar ini dengan bulan sebagai saksi, maka disebutlah batu itu Batu Bolon Sitapi-tapi.

Mengapa bulan menjadi saksi? Karena Ibunda Siboru Pareme, yaitu Siboru Sakti atau Sibaso Bolon, berada disana setelah kembali ke Banua Ginjang. Sibaso Bolon sudah tidak bisa tinggal di kerajaan Ayahnya, Debata Batara Guru, karena Sibaso Bolon sudah bercampur dengan manusia. Tempat mereka adalah di bulan. Dengan demikian, sumpah itu diucapkan dengan Sibaso Bolon sebagai saksi. Itu pula salah satu sebabnya, mengapa ayahanda Siboru Pareme diberi nama Guru Tatea Bulan

Untuk pasangan Siboru Pareme dan Siraja Lontung mereka berpesan bahwa mereka bukan pasangan Suami-istri tetapi Istri – Suami karena Ibunda Siraja Lontung adalah Siboru Pareme, walaupun kemudian menjadi istrinya. Karena itu kedudukan Siboru Pareme harus tetap di sebelah kanan Siraja Lontung.
Pesan lain yang harus diingat oleh keturunan Siboru Pareme-Raja Lontung bahwa mereka adalah keturunan boru Parik Sabungan, bukan keturunan anak. Tuan Saribu Raja bagi Raja Lontung adalah Bapak bukan ayah (biologis)

 

NAMARTUA SIAUGA

Na jolo adong sada raja namora di Huta Parlombuan Mogang Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir. Godang do naposona jala sada sian naposonai didok napogos situtu jala holan mangula do ulaonna di jolo ni Rajai.

Disada tingki di suru Rajai ma ibanan maninggala di jumani rajai, nunga ninna sampe tonga ari ndang adong disuru rajai naposona laho manaruhon sarapan ni paninggalai manang tugona. Nangpe sampe male ibana sai tongdo dipuhuti ulaonnai. Dung so tartaonsabe siak ni siubeonna las martonggo ma ibana tu Mulajadi Nabolon :

Didokma ditonggo na.”Ale Mulajadi Nabolon dang tartaon au be siubeonhon, tumangonma mate au rap dohot horbo on huhut ma dilissinggi horbo nai, ai horbo ipe sasintongna nunga loja,” Ima tonggna.

 Gabe marikatti ma horbo nai alana tarsonggot.Hape sasintongna, namarpesta do rajai di Luati las gabe lupa tu nasinuruna mangula haumanai. Dung sun didok tonggo na i laos mangarutta ma horbo nai, laho marlojongi tu Tao Toba, magotap ma hundali tinggal ma ninggala di Topi Tao. Alai sai di adu paninggala ido horboi tu tao, hape lam marimbus do horbo i sahat tu tao. Nunga dohot be jolma dohot horbo gabe lonong.

                Dung leleng dang mulak  be sahat tu borgin na paninggalai sai di lului do ibana nian hape dang jumpang be. Dung adong hira-hira saminggu lobi, marnipi ma sahalak natua-tua pajumpang dohot tondi ni baoa paninggalai. Didok ma tu natua-tua.” Unang be lului hamu au ai nunga asing be inganankhu.” Laos dipatorang paninggalai ma tu natua-tua i sude namasai namambaen asa gabe sahat tu Tao ibana na gabei mambaen hamateanna.                                                                                                                                                                                                      Molo didok natua-tua, molo adong jolma marnida horbo naduai dohot jolma namaninggalai di aek i sai adong do namasa tu namamerengi. Rupani angka parungkilon manang sahit. Jala sahat tu saonari pe sai dihaporsea i angka jolma do Namartua “ SIAUGA” on.

                Alai murado pangelehon (pangobohion) tu Namartua “SIAUGA” on. Isarana : molo tarbereng ni jolma ibana pintor hatop di bahen pangelehon marrupa itak putih, boi do gabe ndang saut ro parmaraani hona tu namarengi.

                Songoni ma turi-turian ni Namartua SIAUGA on, ima namaringanan di Mogang. Kecamatan Palipi, kabupaten Samosir.

 

 

 

 

About these ads

Author: bindranatoparhusip

Bindranato Parhusip, M.Pd lahir di Lumban Siantar, 20 Maret 1980. Anak ke 4 dari 6 bersaudara. Menikah dengan Lenta K. Sitanggang, S.Pd. Menempuh pendidikan di SD Negeri 173686 Nainggolan yang telah berubah nomenklatur menjadi SD Negeri 1 Nainggolan lulus tahun 1993, SMP Negeri 2 Nainggolan lulus tahun 1996, SMA Negeri 4 Medan lulus tahun 1999, S1 Universitas Negeri Medan Jurusan Pendidikan Matematika lulus tahun 2006, S2 Universitas Negeri Medan Program Pendidikan Teknologi Pendidikan lulus tahun 2009. Pengalaman kerja dimulai dari tahun 2005 sebagai dosen di D3 AMIK Medicom, tahun 2006 sebagai guru Matematika di SMP Negeri Satu Atap Pananggangan yang telah berubah nomenklatur menjadi SMP Satu Atap Negeri 3 Nainggolan dan pada tahun 2010 sebagai Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.